Ada Apa dengan Rashford?

Semenjak debutnya pada musim 2015/16, Marcus Rashford selalu digadang-gadang akan menjadi pemain top dari akademi Manchester United berikutnya. Meskipun ia menunjukkan kegemilangannya di beberapa saat, perkembangannya secara umum bisa dibilang mengecewakan hingga saat ini. Rashford diharapkan bisa menjadi pemain yang terbaik dari yang terbaik, tetapi hingga saat ini ia hanya dapat mencetak 2 gol dan 1 asis dari 14 pertandingan bersama Manchester United di musim 2021-22. Lantas, ada apa dengan Rashford?

Pertama, mari kita lihat output Marcus Rashford dari metrik ‘Expected Non-Penalty Goal Involvement’. Dari musim 17-18 hingga musim 19-20, Rashford selalu mengalami kenaikan dalam metrik ini, yang berarti menunjukkan bahwa Rashford membaik dalam mendapatkan kesempatan mencetak gol juga menciptakan peluang bagi timnya. Namun, dalam dua tahun terakhir, ia mengalami penurunan dalam np-xGI, bahkan lebih buruk dibanding musim 17-18 ketika ia hanya berumur 19 tahun. (np-xGI = np-xG + xA)

Sebelumnya, kenapa harus ‘non-penalty’? Karena situasi penalti sendiri itu sangat berbeda dari open play atau set piece. Misal, pemain yang tidak terlibat dalam situasi yang mengakibatkan penalti bisa saja mengambil penalti, dan dari situasi tsb ia mendapatkan kesempatan untuk mencetak gol yang tinggi. Memang benar, penalti yang didapatkan tetap harus dieksekusi dengan baik, tetapi pengambilan penalti tidak menunjukkan kalau suatu pemain baik dalam memposisikan dirinya ke tempat berbahaya untuk mencetak gol, melainkan sebaik apa pemain tersebut dalam mengeksekusi penalti saja. Contoh konkritnya adalah Jorginho.


Lalu, bagaimana performa finishing Rashford selama ini di Manchester United? Dari musim 17-18 hingga sekarang (fbref.com menyediakan statistik hanya dari musim 2017-18), Rashford telah mencetak 41 non-penalty goals dari 37.3 np-xG. Dari metrik ini, Rashford bisa digolongkan sebagai finisher yang baik. Namun, jika dilihat performanya memang terlihat sangat naik-turun. Mungkin karena itulah juga Rashford sering dilabeli sebagai pemain yang inkonsisten. Secara finishing oke, jadi apa sebenarnya masalah dalam permainan Rashford?

Dari grafik-grafik di atas, kita dapat melihat kualitas (np-xG per shot) dan kuantitas (shots per 90) tembakandari setiap pemain U24 di 5 liga besar Eropa. Disinilah dapat terlihat kelemahan Rashford, yaitu shot selection-nya. Dalam 4 musim terakhirnya, kualitas tembakan Rashford berada hanya sekitar atau di bawah rata-rata. Untuk finisher yang sangat baik seperti Leroy Sane saat di Manchester City atau Son Heung-min, tidak masalah (meskipun berarti kedua pemain tsb bisa lebih baik lagi output golnya). Namun, untuk pemain yang hanya berada di rata-rata untuk finishing seperti Rashford, mungkin kualitas tembakannya bisa diperbaiki. Raheem Sterling adalah contoh baik dari hal tersebut, seperti yang bisa dilihat di grafik.

Faktor lainnya yang membuat Rashford tidak berkembang sesuai harapan adalah mismanagement dari Manchester United sendiri terhadap pemain berumur 24 tahun tersebut. Menit bermain pemain muda perlu diperhatikan dengan baik, sehingga pemain tersebut bisa tetap dapat bugar dalam jangka panjang karena fisiknya yang masih dalam tahap perkembangan. Dari grafik yang dibuat oleh @louorns, kita bisa lihat Rashford telah bermain sekitar 21.000 menit, melebihi Messi dan Aguero pada usia 24. Ketergantungan lebih Manchester United terhadap Rashford mengakibatkan hal tersebut bisa terjadi dan alhasil Rashford mengalami beberapa cedera, seperti cedera bahu yang dialaminya selama gelaran musim 2020-21 sebelum akhirnya menjalani operasi pasca-EURO 2020. Disinggung juga dalam artikel dari ESPN bahwa Manchester United merasa fokus Rashford terbagi karena kegiatan amal yang dilakukannya selama ini.

Kombinasi dari beberapa aspek seperti penggunaan yang berlebihan, cedera bahu yang selalu mengganggu permainannya dan coaching yang bisa dibilang masih suboptimal pada era Ole menyebabkan performa Rashford stagnan. Namun, perlu diingat bahwa perkembangan setiap pemain itu tidak linear. Meskipun ia sedang berada di dalam form yang tidak ideal sekarang, Rashford tetap memiliki potensi yang tinggi. Sekarang di bawah asuhan Ralf Rangnick, apakah pelatih asal Jerman tersebut bisa memaksimalkan potensial yang Marcus Rashford punya? Mari kita lihat kelanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.