Analisis Pertandingan

Agresifitas Taktik Conte di Inter Milan – Analisis Inter vs SPAL

Antonio Conte membawa Inter Milan menduduki puncak klasemen Serie A di pekan ke-14 setelah menundukkan SPAL dengan skor 2-1. Bermain di Giuseppe Meazza, Inter sangat agresif di awal babak sehingga mampu unggul 1-0 di menit 16 melalui situasi high pressing di wilayah lawan. Gol kedua terjadi di menit ke-41 dengan situasi pressing di daerah lawan.

Formasi dan Bangun Serangan

Conte memainkan formasi pakemnya di Inter, 3-5-2, yang juga menjadi formasi dasar SPAL. Di fase pertama, dalam membangun serangan, Inter mulai dengan 3 bek dengan bek kiri (D’Ambrosio) yang lebih melebar terutama saat serangan dibangun dari sisinya. Hal ini banyak dilakukan karena SPAL tidak melakukan high pressing di babak pertama dan lebih bermain dengan blok medium atau rendah, menunggu pemain Inter masuk ke zona pertahanannya.

Build up Inter di babak pertama

Di babak kedua, SPAL melakukan high pressing sehingga skema bangun serangannya menjadi 3 di belakang dengan centerback tengah yang memosisikan diri lebih naik. Hal ini membuat Inter tidak perlu menurunkan 1 CM-nya (Brozovic) sehingga tidak boros pemain di belakang. Juga, outlet untuk keluar dari fase 1 ke 2 jadi banyak opsi dengan adanya Brozovic di tengah.

Build up saat high pressing. Brozovic akan turun jika presser lawan bertambah untuk memenangkan jumlah
D’Ambrosio secara agresif melakukan pressing saat bola direbut lawan meski posisinya adalah bek

Menyerang Lewat Deep Pass

Inter memiliki beberapa variasi dalam menyerang. Salah satunya adalah melakukan direct pass dari belakang (deep). Serangan ini dilakukan jika garis pertahanan lawan tinggi sehingga menyisakan space di belakang bek yang dapat dieksploitasi Lukaku ataupun Martinez. Seperti di menit awal ini, Lukaku decoy (turun/drop) untuk memancing bek menjaganya. Lalu Martinez melakukan diagonal run untuk mengakses ruang yang ditinggalkan bek tersebut.

Direct pass to Martinez, Lukaku decoy memancing bek lawan

Overload di Flank

Salah satu fitur taktik dari Conte adalah melakukan overload di flank. Skemanya menggunakan central midfielder yang melebar. Baik Vecino maupun Gagliardini secara bergantian akan melebar bersama wingback (Candreva & Lauzaro) tergantung arah serangan. Jika lawan merespon dengan menumpuk tambahan pemain di flank, maka D’Ambrosio akan naik sekaligus menjadi defensive cover dengan pemosisian yang sedikit ke tengah (halfspace). Mekanisme ini dipakai ketika lawan menerapkan blok rendah dalam bertahan. (pelajari tentang defensive block disini)

Skema overload dengan pemain depan dan D’Ambrosio yang siap menambah jumlah pemain di flank

Kita bisa melihat di sisi lain, Lazaro tetap melebar. Taktik ini digunakan ketika lawan sudah terpancing untuk bertahan di salah satu flank. Ketika sudah menumpuk maka sisi flank lain (Lazaro) akan tidak terkawal. Di sinilah akan dilakukan switch play dengan mengirimkan umpan flank to flank. Kita bisa melihat dengan skenario yang dibalik pada menit ke-17 ini. Lazaro mengirimkan umpan ke Candreva yang stay wide di flank. Pada saat melakukan switch ini, shape lawan akan berpindah sehingga terjadi disorganisasi. Ya, switch play ini juga untuk disorganisasi pertahanan lawan dan akan sangat efektif jika umpan yang dilesatkan cepat dan tepat.

High Pressing dan Counter Pressing untuk Segera Mendapatkan Bola

Taktik Conte sudah terlihat jelas di awal pertandingan. 2 striker yang disokong 3 center midfielder aktif melakukan high pressing. Brozovic secara posisi dan melakukan pressing secara agresif hingga naik.

Brozovic naik dan Candreva (WB) juga naik

Sementara, sektor flank akan diokupansi wingback yang akan naik ketika trigger untuk melakukan pressing terjadi. Pressing trigger salah satunya ketika bola berada atau akan dialirkan ke flank. Saat bola di flank ini, sudut atau opsi umpan tidak banyak. Untuk itulah Lazara akan secara agresif naik untuk melakukan pressing.

Lazaro secara agresif (speed tinggi) melakukan press ketika ada pressing trigger

Selain menerapkan high press, Inter juga sangat agresif dalam melakukan counterpress. Counterpress adalah pressing yang dilakukan segera saat kehilangan bola. Taktik ini dapat diamati dari kecenderungan apa yang dilakukan pemain saat penguasaan bola lepas. Tim yang tidak menerapkan counterpress akan langsung mundur (regroup) untuk membentuk shape bertahan. Sementara yang dilakukan Inter adalah melakukan press segera ke pembawa bola. Perlu timing dan koordinasi yang tepat dan kompak untuk melakukan counterpress. Conte nampaknya bekerja banyak untuk taktik ini. Pemain Inter cukup agresif dalam melakukan counterpress sehingga lawan tidak punya waktu untuk membangun serangan/menyerang balik.

Prosesi Gol

Seperti disinggung di mukadimah, Inter unggul berkat high pressing yang agresif di awal babak. Dalam melakukan pressing di depan, Inter membentuk 2 blok yang berisi 5 pemain. Blok ini akan mengikuti pembawa bola dengan pressing trap di tengah. Taktik Conte dengan high pressing ini untuk memenangkan bola sesegera mungkin di zona lawan.

Brozovic memenangkan bola dari pemain tengah

Brozovic didapuk menjadi presser karena sangat baik dalam melakukan tackle. Brozovic mencatatkan tackle paling tinggi di pertandingan ini dengan 6 tackle, mengalahkan rekannya yang berposisi bek, De Vrij dengan 5 tackle. Situasi gol pertama lahir dari skenario ini dengan Brozovic sebagai inisiator serangan saat berhasil melakukan tackle.

Bola yang dimenangkan Brozovic, ketika lawan di posisi cukup tinggi sehingga striker tinggal berhadapan dengan bek

Gol pertama Lautaro Martinez juga dibantu dengan diagonal run dari Lukaku. Pergerakan tanpa bola ini akan mengecoh konsentrasi lawan dalam melakukan marking. Diagonal run akan menguji koordinasi 2 bek lawan karena dengan pergerakan tersebut, striker berlari dari area 1 bek ke area bek lainnya. Sehingga, jika koordinasi antar bek tidak bagus, akan terjadi tubrukan marking.

Diagonal run untuk menguji koordinasi 2 bek

Gol kedua berawal dari situasi yang sama namun lebih tinggi. Dengan taktik ini Conte nampaknya ingin mendapatkan bola sedini dan setinggi mungkin di pertahanan lawan. Memenangkan bola dengan situasi tersebut sangat menguntungkan karena lawan belum dalam shape bertahan yang kompak.

Pressing retention membuat SPAL tidak mampu mempertahankan bola dan berhasil direbut di lokasi yang cukup tinggi dalam pertahanannya
Bola yang dimenangkan tersebut langsung diarahkan ke Candreva yang akan melakukan crossing dengan situasi pertahanan yang belum kompak

Kesimpulan

Meski bermain dengan 3 bek yang diidentikan dengan skema bertahan, Conte nyatanya memainkan sepakbola yang positif dengan melakukan high pressing dan counterpressing agresif. Retensi pressing yang dilakukan menyulitkan SPAL untuk melakukan counter attack/rebuild up. Gameplannya, untuk memenangkan bola setinggi mungkin di area lawan. Conte juga memiliki variasi taktik saat lawan bertahan dengan blok rendah maupun tinggi. Duet striker di depan juga nampak padu dan saling melengkapi. Lukaku beberapa kali decoy untuk mengirimkan umpan atau memberi space kepada Lautaro Martinez. Menarik untuk diikuti sejauh mana kiprah Conte di Inter Milan musim ini.

Pemain yang patut diperhitungkan dalam mendukung agresifitas ini adalah Marcelo Brozovic. Dia tidak segan melakukan tackle hingga ke pertahanan lawan. Juga menjadi pivot Inter Milan ketika membangun serangan. Ground duels yang dicatatkan Brozovic juga sangat tinggi, terutama saat out of position. Alias, duel di bawah saat Inter Milan melakukan transisi. Via #smarterscout

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *