Analisis Pemain

Analisis Pemain: Bruno Fernandes – Tepat tapi Butuh Support

“Fit, fast and full of clever movement – but he needs someone upfront to link with” begitu bunyi judul tulisan Andy Mitten di The Athletic. Debut Bruno memang bisa dibilang baik namun tidak spektakuler. Meski mencatatkan tembakan paling banyak ke gawang (5), rerata akurasi umpan Bruno Fernandes yang diambil dari whoscored hanya 80,2% alias terbawah mengingat Greenwood (77,8%) dan Dalot (75%) yang berada di bawahnya, bermain sebagai pemain pengganti. Bicara soal statistik rerata umpan ini memang tidak bisa langsung disimpulkan bahwa yang memiliki rerata tinggi, bermain lebih baik daripada yang rendah. Rendahnya akurasi umpan dari Bruno Fernandes adalah kompensasi dari beraninya dia memainkan umpan vertikal/ke depan yang menembus antar lini. 13/18 umpan di sepertiga akhir/daerah berbahaya lawan merupakan paling tinggi di antara rekan-rekan lainnya. Inilah yang menjadi kekurangan Manchester United semenjak ditinggalkan Paul Pogba, praktis tidak ada pemain yang bertipikal pendobrak antar lini dengan umpan-umpan vertikal yang beresiko. Output serangan hanya mengandalkan counter attack. Klub asuhan Solskjaer ini tidak mampu berbuat banyak saat lawan menerapkan blok rendah. Hanya seorang Rashford yang menjadi tumpuan serangan. Semua setuju jika Martial memiliki bakat, namun tidak konsisten. Ditambah, absennya Rashford bikin Martial bermain datar-datar saja.

Balik ke judul dari Andy Mitten di atas, Bruno butuh penghubung dengan pemain di depannya untuk menciptakan serangan. Bermain di belakang Martial, Bruno justru lebih banyak melakukan kombinasi dengan pemain sayap di half space. Dipasang sebagai no. 10 atau di belakang striker, Bruno malah lebih banyak bergerak ke sayap untuk menciptakan situasi menang jumlah (overload). Di Sporting, memang Bruno bermain sebagai “free 8” di formasi 4-3-3. Seperti posisi Kevin De Bruyne di Manchester City.

Mapping Penerimaan Umpan Bruno Fernandes yang Lebih Banyak di Sayap saat dipasang di no. 10 (Sumber TotalAnalysis/Wyscout)

Dengan bergerak ke sayap kiri seperti di menit ke-20, Bruno akan menciptakan situasi overload dengan Shaw dan James. Sebelumnya, Mata melakukan perpindahan serangan dari kanan ke kiri (switch play). Perpindahan ini menyebabkan Gelandang Wolves harus merespon dengan menggeser posisinya dari kiri ke kanan juga agar bisa mengimbangi jumlah pemain Manchester United. Namun kombinasi yang dilakukan Shaw-James-Bruno terlalu cepat untuk direspon sehingga James lepas dari kawalan Matt Doherty yang harus menutup Bruno. Di sinilah kekurangan Manchester United dalam mendobrak rapatnya pertahanan rendah melalui crossing. James merupakan winger murni yang punya kemampuan baik dalam menyisir sayap, namun tipe crossingnya kurang variatif. Bola lebih sering dicrossing ke tengah. Jika lebih jeli, Bruno sebenarnya sudah melakukan late run into the box atau pergerakan (disengaja) telat ke penalti untuk membuka opsi umpan, bergerak dari sayap ke tengah untuk menerima cut back dari James.

Pemosisian Bruno di sayap menciptakan situasi menang jumlah vs Doherty bersama James dan Shaw yang ikut ke depan. Dengan switchplay dari Mata, 2 CM Wolves harus bergeser untuk menutup pergerakan tersebut.
Doherty harus menjaga 2 pemain (Bruno & James). Saat harus menutup pembawa bola (Bruno) James lolos. Pergerakan Shaw ke depan juga membuat Neves dan Boly tidak bisa membantu Doherty karena menjaganya.
James sudah bagus memancing garis pertahanan Wolves menempel ke garis gawang. Pergerakan ini akan membuka ruang di depan bek. Jika dilakukan cutback ke Bruno, maka ruang yang tersedia cukup lebar.

Pemosisian di Ruang Berbahaya

Salah satu keunggulan Bruno Fernandes adalah kemampuannya menempatkan diri di ruang yang berbahaya. Ada beberapa momen di mana pemosisian ini tidak didukung pemain lain. Inilah yang membuat pembeliannya tidak serta merta mengatasi masalah Manchester United. Butuh keberanian melepaskan umpan-umpan beresiko dari pemain lain agar menciptakan progresi serangan yang menghasilkan peluang.

Shaw mempunyai opsi untuk memberikan umpan terobosan ke Bruno namun lebih memilih bermain aman
Begitu juga Mata di situasi ini tidak memberikan umpan ‘beresiko’ ke Bruno meski akses umpan tersedia

Perubahan Posisi

Selama babak kedua, Bruno bermain lebih ke belakang di formasi 4-2-3-1 (double pivot dengan Fred). Perreira kiri, James kanan, Mata di tengah. Dengan posisi lebih di belakang, Solksjaer ingin menambah daya serang dengan taktik menyerang dari lini kedua akibat terisolasinya lini depan. Pun begitu, taktik ini tidak berjalan begitu baik. Dilihat dari xG selama babak kedua tidak ada kenaikan signifikan atau bisa disebut tidak ada peluang yang berarti. Tembakan-tembakan dari luar kotak penalti tidak banyak mengancam gawang Rui Patricio meski ada satu tembakan yang membahayakan karena membentur bek. Lonjakan xG Manchester United naik di menit akhir karena peluang Dalot.

xG Manchester United cenderung flat karena peluang yang diciptakan tidak banyak mengancam gawang

Dari 16 tendangan, 10 di antaranya dilakukan di luar kotak penalti. 5 dari 10 tendangan tersebut lahir dari kaki Bruno Fernandes, 3 di antaranya tepat sasaran. Sementara Martial yang tampil sebagai striker tidak mencatatkan tembakan sekalipun.

5 tembakan yang dilesatkan oleh Bruno Fernandes

Statistik menyebutkan jika Bruno Fernandes tidak mencatatkan key passes atau umpan yang berujung tendangan ke gawang. Total xG Bruno hanya 0.16 dan dengan jumlah itupun tertinggi kedua di bawah Dalot yang memiliki peluang terbaik di akhir babak kedua sebesar 0.35.

Keunggulan Teknikal

Beberapa catatan lain adalah kemampuan dia melindungi bola (keeping/shielding) dan mampu melepaskan umpan terukur meski dalam posisi tertekan. Satu lagi, teknik menggunakan kaki luar untuk melepaskan tendangan dan memberikan umpan. Terutama untuk mengumpan, teknik ini memberikan efek kejutan dan arah bola yang tidak terduga.

Kesimpulan

Di EPL, tendensi tim papan tengah ke bawah untuk memainkan blok rendah sangat tinggi. Tim-tim di papan atas bekerja banyak menyiasati strategi untuk membongkar pertahanan rapat ini. Hal ini dikarenakan jumlah pertemuan dengan tim yang berani terbuka hanya sedikit dibandingkan dengan tim yang bertahan dengan blok rendah. Liverpool hanya bertemu City semusim 2x di liga. Bertemu tim yang menyerang lain pun jumlahnya tidak sebanyak tim yang bertahan. Untuk itu tim-tim ini punyak taktik dan strategi untuk membongkar pertahanan rapat.

Ini yang tidak terlihat di Manchester United musim ini. Solskjaer cenderung bermain reaktif dengan mengandalkan serangan balik. Sehingga kesulitan menghadapi tim seperti Wolves yang menyerang dengan 3-4 pemain, sisanya tetap di belakang. Pembelian Bruno Fernandes pun sebenarnya tepat untuk mengisi kepingan yang kurang di tubuh Manchester United. Namun Solskjaer masih harus bekerja ekstra meracik taktik untuk membongkar pertahanan lawan dan tidak hanya bergantung pada serangan balik ataupun Rashford. Bruno Fernandes tepat tapi butuh support agar tidak mubadzir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *