Analisis Pertandingan Analisis Taktik

Analisis Sepak Pojok: Manchester United 0–0 Manchester City

Membosankan. Mungkin itu kata yang paling banyak dipakai orang untuk merespon Derbi Manchester ke-183 pada Minggu dini hari lalu. Bahkan, kata ‘Boring’ sempat masuk ke dalam topik yang sedang ngetren di Twitter. Tidak salah memang jika penonton kecewa. Pasalnya, Manchester United dan Manchester City telah berbagi 19 gol dalam pertemuan terakhir di Liga Primer.

Sebagai analis, saya mungkin melihat pertandingan ini dengan sedikit berbeda. Saya terkesan dengan beberapa taktik yang diterapkan kedua tim, khususnya United ketika bertahan. Sayangnya, hari ini kita tidak akan bahas itu.

Tulisan ini akan membahas tentang taktik bola mati Si Setan Merah. Di babak pertama, ada dua kesempatan United untuk mencetak gol melalui situasi sepak pojok. Mungkin banyak orang yang melewatkan kejadian ini karena bolanya juga tidak tepat sasaran alias off target. Tapi, kacamata analisis saya melihat ada pola yang menarik dalam dua kesempatan tersebut. Yuk kita pelajari bareng-bareng!

Mengenal skema pertahanan the Citizens

Kita mulai dari sistem pertahanan City. Ketika menghadapi sepak pojok, Pep Guardiola menginstruksikan pemainnya untuk bertahan dengan pola 5–3–2. Sistem yang digunakan adalah penjagaan zona (zonal marking). Dalam sistem ini, yang menjadi fokus utama ketika bertahan adalah menjaga ruang. Dengan kata lain, bola atau lawan yang datang ke satu wilayah tertentu akan menjadi tanggung jawab (para) pemain City yang paling dekat.

Sistem dan pola ini bukan barang asing bagi Guardiola. Pasalnya, Pep sudah menggunakan sistem tersebut semenjak beliau masih melatih FC Bayern München. Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Sistem ini berbeda dengan penjagaan lawan (man-to-man marking), yang berfokus pada pergerakan tiap-tiap lawan. Dalam sistem man-to-man, tiap-tiap pemain punya lawan masing-masing yang harus dijaga. Misal: bek A menjaga penyerang X, gelandang B mengikuti pemain Y, dan seterusnya.

Jadi ingat ya, dalam situasi sepak pojok City menggunakan penjagaan zona (zonal marking), bukan menjaga lawan satu demi satu.

Pembagian tugas

Skema 5–3–2 City dalam menghadapi sepak pojok United.

Dalam skema 5–3–2 yang dipakai City, lini pertama diisi oleh lima pemain di kotak 6 meter. Lini kedua diisi tiga pemain yang berdiri di sekitar titik 12 pas. Terakhir, dua orang berdiri agak keluar dari jalur, yakni di samping kotak penalti.

Adapun pembagian tugasnya adalah sebagai berikut:

Pertama, kita lihat bahwa garis pertama City (5 orang) terlihat agak miring atau asimetris. Pemain yang berada di sekitar tiang dekat berada sedikit lebih mundur daripada rekan-rekannya. Ini bertujuan untuk mencegah United melakukan serangan melalui tiang dekat.

Dalam garis pertama City, ada dua orang yang punya tugas spesifik. Pertama adalah Kevin De Bruyne. Sang pemain Belgia ini ditugaskan untuk menjaga wiliayah di sekitar tiang dekat. Pemain kedua adalah Kyle Walker. Kebalikan dengan De Bruyne, Walker punya tugas untuk menjaga ruang di sekitar tiang jauh. Tugas ini sudah saklek, dan mereka akan bertukar posisi ketika United mendapatkan tendangan sudut dari sisi yang lain.

De Bruyne dan Walker pun sebenarnya tidak sendirian dalam menjalankan tugas mereka. Di tiang dekat, De Bruyne dapat dibantu oleh Rúben Dias. Sedangkan di tiang jauh, Walker dapat disokong oleh Rodri.

Perhatikan De Bruyne dan Walker. Meskipun sepak pojok United berasal dari sisi yang lain, mereka tetap dengan tugas khusus masing-masing.

Kedua, bagian tengah. City punya total enam orang untuk menjaga bagian tengah. Di lini pertama mereka punya Dias, John Stones, dan Rodri, yang ketiganya berdiri di kotak 6 meter. Sedangkan di lini kedua City mengandalkan Gabriel Jesus, Fernandinho, dan João Cancelo.

Dengan banyaknya orang di bagian tengah, City jelas ingin memberikan proteksi ekstra di wilayah tersebut. Andaikata satu atau dua pemain berhasil ditarik keluar oleh pemain United, the Citizens masih punya opsi lain untuk melapis.

Sistem penjagaan zona City bertujuan untuk memaksa United kalah jumlah ketika duel udara. Perhatikan, ada empatpemain City yang siap berduel melawan duo Scott McTominay dan Paul Pogba.

Terakhir, lini ketiga City (2 orang) yang tadi sempat kita sebut keluar jalur. Mengapa demikian? Kedua orang ini ditugaskan oleh Guardiola untuk berdiri di samping atau tepi luar kotak penalti untuk mencegah United bermain bola pendek dalam sepak pojok mereka. Adapun yang ditugaskan di sini adalah duet Riyad Mahrez dan Raheem Sterling.

Mahrez dan Sterling berada di dekat tiang pojok untuk mencegah United bermain pendek.
Meskipun berpindah sisi, tugas Mahrez dan Sterling tetap sama.

Sepak pojok Man United

Sejatinya United punya lima orang yang selalu berada di dalam kotak penalti. Mereka adalah Mason Greenwood, Victor Lindelöf, Harry Maguire, McTominay, dan Pogba. Terkadang ada satu pemain lain yang ikut, yakni Marcus Rashford. Tetapi Rashford lebih sering berada di dekat penendang sepak pojok.

Adapun yang bertugas menendang sepak pojok ialah Luke Shaw (dari kanan), dan Bruno Fernandes (dari kiri). Instruksi yang diberikan Ole Gunnar Solskjær bagi mereka adalah melepaskan umpan in-swing ke dalam kotak penalti.

Umpan in-swing berarti bola yang diberikan akan cenderung ke dalam dan mendekati gawang. Berbeda dengan umpan out-swing di mana bola akan bergerak ke luar dan menjauhi gawang. Apa alasannya? Kita pelajari sebentar lagi.

Taktik yang digunakan armada Solskjær

Susunan pemain United di dalam kotak penalti

Kelima pemain United di dalam kotak penalti punya posisi berdiri dan tugas yang berbeda-beda, sebagai berikut:

Pertama, Greenwood. Si anak muda ini diminta untuk berdiri di bagian tengah kotak 6 meter. Ketika bola siap dimainkan, Greenwood bertugas untuk segera lari ke arah tiang dekat.

Kedua, Lindelöf. Posisi awal bek asal Swedia ini adalah di sekitar tiang jauh. Lindelöf punya tugas untuk berlari ke tiang dekat dan menyongsong bola jika diarahkan ke sana. Namun, tugasnya tidak berhenti di situ. Lindelöf harus segera menyontek (flick) bola ke tiang jauh dengan sundulannya.

Ketiga, Maguire dan Pogba. Posisi awal mereka berada di bagian depan kotak penalti bersama McTominay. Tapi, mereka berdua punya tugas yang berbeda. Duet Pogba dan Maguire bertugas untuk menyerang bagian tengah kotak penalti apabila Shaw atau Fernandes mengumpan ke area tersebut.

Terakhir, McTominay. Meskipun memulai pergerakan dari posisi yang relatif sama dengan Pogba dan Maguire, pemilik nomor punggung 20 ini punya tugas yang berbeda. Solskjær menginstruksikan McTominay untuk bergerak ke tiang jauh dan menerima bola sontekan hasil sundulan Lindelöf.

Peta pergerakan pemain United untuk menerima umpan sepak pojok. Kotak biru untuk tiang dekat, kotak kuning untuk bagian tengah, dan kotak merah untuk tiang jauh.

Peluang Lindelöf-McTominay: menit 11

Sepak pojok United di menit 11.

Dalam situasi sepak pojok ini, Shaw memberikan umpan kepada Lindelöf. Seperti yang dapat kita lihat, Lindelöf memulai pergerakannya dari daerah tiang jauh namun menyundul bola dari sekitar tiang dekat. Sundulannya ini disontek dan diarahkan ke tiang jauh.

Untuk menerima sundulan Lindelöf, McTominay sudah memulai larinya semenjak bola disepak. Dengan begitu sang gelandang dapat tiba di tiang jauh sambil berlari. Sayangnya, McTominay terlambat sepersekian detik sehingga gagal mencetak gol.

Di mana masalah City?

Menurutmu, di mana masalah City?

Jika kita melihat gambar di atas, dapat kita lihat Lindelöf adalah satu-satunya pemain United yang menyongsong bola di tiang dekat. Adapun City punya tiga pemain di wilayah tersebut (De Bruyne, Dias, dan Stones). Sayangnya, tidak ada satupun pemain tim tamu yang memenangi duel udara.

Masalah tidak berakhir di situ. Pemain City yang bertugas menjaga tiang jauh (Walker), nampaknya nggak ngeh dengan keadaan di sekitarnya. Bola hasil sundulan Lindelöf sama sekali tidak dipotong olehnya, sehingga McTominay bisa dengan bebas untuk menyerang. Beruntung saja si pemain Skotlandia gagal mencetak gol.

Banyak orang mungkin berpendapat kalau ini salah Walker. Menurut saya, Walker tidak bisa disalahkan dengan bebasnya McTominay. Ini dikarenakan dalam penjagaan zona, yang menjadi fokus adalah melindungi ruang, bukan menutup lawan. Adapun yang mungkin jadi kesalahan Walker adalah fakta bahwa dia tidak memotong bola yang datang ke tiang jauh, wilayah tanggung jawabnya.

Walker seharusnya bisa merespon datangnya bola ke tiang jauh dengan lebih baik.

Peluang Maguire: menit 31

Maguire hampir mencetak gol seperempat jam menjelang turun minum.

United mendapat peluang kedua melalui sepak pojok pada menit ke-30. Kali ini Shaw mengarahkan bola ke bagian tengah, yang kemudian disundul oleh Maguire. Sayangnya sundulan sang kapten masih terlalu tinggi.

Peta pergerakan pemain United di tendangan sudut menit ke-30. Ada sedikit perubahan, lho.

Pada sepak pojok kali ini ada sedikit perubahan posisi dan pergerakan pemain, yakni di antara Pogba dan McTominay. Pogba — sebelumnya bertugas untuk menyerang bagian tengah — bertukar peran dengan McTominay. Ini berarti sang mantan pemain Juventus bertugas untuk menyerang daerah tiang jauh, sedangkan McTominay berlari ke bagian tengah.

Berharap mendapat bola sontekan dari Lindelöf, nyatanya Pogba sama sekali tidak diberi bola. Shaw memilih mengumpan bola ke bagian tengah. Rekan yang ia tuju adalah Maguire. Eks pemain Leicester ini berhasil berdiri bebas dan menyundul bola meskipun tidak tepat sasaran.

Di mana masalah City?

Menurutmu, di mana masalah City?

Berdasarkan gambar di atas kita dapat melihat bahwa Maguire menyerang bagian tengah. Di bagian tersebut City punya tiga pemain (Rodri, Stones, dan Fernandinho), sedangkan Maguire hanya dibantu McTominay. Perhatikan juga seberapa luas ruang yang dimiliki oleh Maguire untuk menyundul.

Lagi-lagi City tidak dapat memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk memenangi duel udara. Boleh dikatakan anak asuh Guardiola mungkin sedikit beruntung ketika tandukan Maguire tidak mengancam gawang City dengan serius.

Peluang Lindelöf-McTominay jilid II: menit 40

United memperoleh satu peluang sepak pojok lagi 5 menit jelang paruh waktu.

Setan Merah mendapat kesempatan mencetak gol via tendangan sudut di menit ke-40. Kali ini berasal dari kiri, dengan Fernandes sebagai eksekutor. Dalam skema ini McTominay dan Pogba kembali ke ‘habitat’nya masing-masing. Ini berarti McTominay menyerang tiang jauh dan Pogba bergerak ke tengah.

Sasaran utama United dalam sepak pojok ini adalah Lindelöf. Masih dengan jalur lari yang sama, Lindelöf bergerak dari tiang jauh ke arah tiang dekat untuk menyambut umpan Fernandes. Setelah itu sang bek Swedia langsung menyundul bola ke tiang jauh di mana McTominay akan datang. Sayangnya, sundulan Lindelöf terlampau kuat. Alih-alih mencapai McTominay seperti peluang di menit ke-11, tandukan Lindelöf malah berujung tendangan gawang.

Di mana masalah City?

Menurutmu, di mana masalah City?

Berdasarkan gambar di atas, kita melihat bahwa Lindelöf kembali berhasil menyundul bola di tiang dekat. Bahkan, sang bek tengah terlihat sukses menanduk bola tanpa pengawalan berarti. Hal ini tentu sangat disayangkan oleh Guardiola. Pasalnya, City punya tiga pemain yang dapat mengganggu Lindelöf di tiang dekat.

Mereka adalah De Bruyne, Dias, dan Stones. Apa yang dilakukan De Bruyne dalam potongan gambar di atas sedikit membingungkan. Mengapa? Ini dikarenakan De Bruyne terlihat lebih fokus mengikuti Greenwood daripada melihat datangnya arah bola. Padahal, dalam penjagaan zona lagi-lagi yang diutamakan adalah menjaga ruang, bukan menjaga lawan. Kita pun sudah sepakat di awal kalau De Bruyne lah yang punya tugas utama menjaga tiang dekat.

Kesalahan City tidak hanya dapat ditimpakan pada De Bruyne. Kita juga bisa melihat bahwa Stones dan Dias tidak mampu mengalahkan Lindelöf sekalipun sudah unggul jumlah. Beruntung bagi City, sundulan Lindelöf melenceng ke atas mistar.

McTominay sudah siap di tiang jauh untuk menerima sundulan Lindelöf. Apa mau dikata, sontekan sang rekan gagal menemui sasaran.

Akhir kata

Sepakbola bukan hanya urusan gol. Di balik hasil akhir, ada banyak sekali proses menarik yang terjadi. Salah satunya adalah taktik bola mati. Skema sepak pojok yang dipakai Man. United dalam laga ini sejujurnya agak mirip dengan skema yang pernah dipakai Timnas Inggris melawan Belgia beberapa waktu lalu. Kalau penasaran, silakan klik tautan ini karena saya juga yang bikin 🙂

Di sisi lain, Guardiola perlu memutar otak lebih keras. Kalau dibiarkan begini terus, City bisa menjadi bulan-bulanan dalam situasi bola mati. Tentu bukan hal yang mereka inginkan, bukan?

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!


Kredit: Istvan Beregi (thetacticalanalyst.wordpress.com), Worldfootball, Wyscout.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *