Analisis Pertandingan

Everton 2-2 Liverpool: Determinasi Everton Cegah Liverpool Meraih Hasil Positif

Ada alasan valid mengapa pertandingan Derby Merseyside edisi ke-235 kemarin banyak ditunggu khalayak ramai. Everton, kubu Merseyside yang dekade belakangan ini kerap dianggap inferior ketika derby justru berada dalam performa impresif usai menyapu bersih 4 kemenangan dari 4 pertandingan. Di sisi lain, Liverpool, sang unggulan sekaligus juara bertahan liga, sedang terseok-seok usai kalah 2-7 dari Aston Villa. Tidak sedikit yang memprediksi Everton bakal meraih kemenangan derby pertamanya dalam satu dekade terakhir.

Hasilnya bisa dibilang tidak mengecewakan meski kedua tim kembali berbagi angka seperti di laga derby sebelumnya. Drama tekel horor Jordan Pickford kepada Virgil Van Dijk, kejar-kejaran skor, kartu merah Richarlison, hingga gol menit akhir Liverpool yang dianulir oleh VAR cukup banyak merangkum keseruan pertandingan ini. Di samping itu, adu taktik antara dua pelatih sarat pengalaman antara Carlo Ancelotti dan Jurgen Klopp juga menghadirkan pertarungan yang menarik.

Line-up

Kedua tim tidak banyak melakukan perubahan pada susunan sebelas awal. Baik Ancelotti maupun Klopp tetap mempertahankan bentuk dasar 1-4-3-3 mereka di pertandingan ini. Secara personil, susunan pemain kedua tim menunjukkan adanya perhatian lebih pada keseimbangan permainan. Pemain yang menjadi starter merupakan pemain yang relatif lebih baik dalam bertahan maupun menyerang.

Pickford masih menjadi pilihan utama Everton di bawah mistar gawang. Di depannya, empat bek diisi oleh personil terkuat tuan rumah; Seamus Coleman, Yerry Mina, Michael Keane, dan Lucas Digne. Allan kembali ke starting XI sebagai pemain No. 6 di belakang duet Abdoulaye Doucoure dan Andre Gomes. James Rodriguez, pemain kunci Everton musim ini mengisi posisi sayap kanan meski sedikit diberikan kebebasan untuk bergerak maupun bertukar posisi dengan rekannya di sisi seberang, Richarlison. Top skorer sementara liga, Dominic Calvert-Lewin, memimpin lini serang tim tuan rumah sebagai No. 9 tunggal.

Dari kubu tim tamu, Klopp masih mempercayakan Adrian di tengah absennya Alisson. Perubahan dilakukan oleh manajer asal Jerman tersebut di lini belakang, di mana Joel Matip menggantikan Joe Gomez di jantung pertahanan untuk berduet dengan Van Dijk. Perubahan ini mungkin didasari oleh performa defensif Gomez yang kurang meyakinkan ketika kalah dari Aston Villa. Di lini tengah, Fabinho mengisi posisi No. 6 di belakang Jordan Henderson dan Thiago. Lini depan kembali diperkuat trio Mo Salah-Roberto Firmino-Sadio Mane.

Kedua tim sulit membangun serangan dari bawah

Laga derby pastinya akan selalu sulit. Bagi kedua tim, kesulitan pertama datang dari pressing yang dilakukan lawan. Baik Liverpool dan Everton cukup kesulitan dalam menciptakan progresi yang bersih dari situasi build-up di bawah. Meski kedua tim bukan tim yang banyak menekankan penguasaan bola, kesulitan ini cukup berpengaruh dalam alur serangan masing-masing. Meski demikian, kedua tim memiliki peluang yang telah dan bisa dieksploitasi untuk keluar dari situasi sulit.

  • Everton vs 4-3-2-1 Liverpool

Liverpool di bawah Klopp merupakan salah satu tim paling efektif di Eropa dalam urusan melakukan pressing blok tinggi. Seperti biasanya, tiga pemain terdepan The Reds akan menekan dua bek tengah lawan sekaligus menjaga akses pressing terhadap bek sayap dan No. 6 lawan via cover shadow. Sementara tiga gelandangnya menutup tiga koridor sentral; area tengah dan dua half-space

Bagi Everton, bentuk pressing tersebut menyulitkan mereka untuk mendapatkan situasi ideal dalam build-up. Apalagi Allan sebagai No. 6 relatif jarang melakukan pergerakan untuk keluar dari cover shadow Firmino.

Respon umum Everton adalah melakukan sirkulasi untuk memancing winger lawan melakukan pressing, setelah itu bek tengah akan melakukan umpan lob ke bek sayap terdekat. Bek sayap Everton sendiri mengambil posisi yang cenderung rendah untuk mempersulit winger lawan melakukan pressing (karena jarak yang ditempuh dan sudut untuk melakukan pressing akan lebih besar) dan menjauhkan diri dari akses pressing gelandang Liverpool. Respon ini relatif menjanjikan, tetapi umpan yang dikirim kepada bek sayap bukan umpan yang mudah dikontrol sehingga memberikan waktu bagi pemain Liverpool terdekat melakukan pressing.

Solusi lain yang dilakukan Everton adalah memainkan double pivot. Bentuk build-up dengan dua No. 6 ini membuat No. 9 lawan (Firmino) harus menjaga lebih banyak orang. Dua pivot ini juga bisa memancing duet No. 8 Liverpool untuk melakukan press dan menciptakan ruang yang bisa dieksploitasi nantinya.  

Salah satu nomor 6, Andre Gomes kerap turun sejajar Allan di No. 6, sementara No. 8 lain, Doucoure akan bermain sedikit lebih tinggi di half-space bersama Richarlison. Mekanisme ini awalnya tetap menemui kesulitan karena intensitas pressing Liverpool yang tinggi serta kurang sigapnya gelandang Everton di bawah untuk mengalirkan bola di bawah tekanan. 

Penggunaan mekanisme ini mulai intens ketika Everton mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 di mana mereka memiliki dua pivot secara natural. Mekanisme ini turut berperan dalam menciptakan progresi serangan yang berujung pada gol penyama kedudukan tuan rumah yang dicetak oleh Calvert-Lewin. Hal ini juga didukung dengan banyaknya gelandang serang yang bisa mengikat pemain bertahan Liverpool.

Pada kekalahan telak dari Aston Villa, Liverpool kebobolan dari situasi build-up di area kotak penaltinya sendiri. Hal tersebut tentu tidak ingin diulangi di laga penting kali ini. Setelah ‘blunder’-nya pekan lalu, Adrian cukup berhati-hati ketika Liverpool melakukan build-up. Dalam beberapa kesempatan ketika Liverpool punya peluang melakukan progresi, mereka tetap memainkan umpan panjang.

Everton, di sisi lain, mencoba untuk mengkapitalisasi situasi serupa. Tim tuan rumah banyak melakukan pressing blok tinggi dalam bentuk 4-4-2. Calvert-Lewin dan James menjadi lini pressing pertama. Richarlison dan Doucoure menutup akses ke dua bek sayap Liverpool. Dari bentuknya, pressing Everton bertujuan untuk mengimbangi lini pertama build-up Liverpool secara jumlah. Dari pertemuan tersebut ada kondisi 4+1v4 bagi Liverpool. Superioritas jumlah sebenarnya bisa diciptakan oleh Adrian, namun seperti yang disebutkan sebelumnya, Adrian cukup berhati-hati dan tidak mau banyak mengambil risiko di area bawah.

Superioritas lain sebenarnya juga bisa diciptakan Liverpool di lini tengah. Secara natural mereka unggul 3v2 melawan 4-4-2 Everton. Bahkan dalam beberapa momen Firmino kerap turun ke lini tengah dan menciptakan overload 4v2. Yang perlu dilakukan Liverpool secara lebih konsisten dalam hal ini adalah pemosisian dua gelandang terdalamnya, Fabinho dan Thiago (Henderson kerap berposisi lebih tinggi). Keduanya bisa menciptakan angle yang lebih aksesibel bagi bek tengah Liverpool. Berdiri sejajar dalam zona yang sama akan merugikan karena okupasi ruang yang tidak ideal tersebut memudahkan lawan melakukan pressing.

Bola diagonal Liverpool

Salah satu fitur penting bagi Liverpool di laga ini adalah bola-bola diagonal yang banyak dipakai untuk memindahkan alur serangan dan menciptakan peluang. Mayoritas bola diagonal ini berasal dari kanan ke kiri.

Secara teori, bola diagonal memiliki keunggulan dibandingkan bola vertikal atau horizontal. Bola yang dikirimkan menyilang mengharuskan pemain bertahan bergerak dalam dua dimensi, ke arah belakang dan ke samping (kanan/kiri). Tentu hal tersebut lebih menyulitkan dibandingkan bola vertikal/horizontal yang hanya mengharuskan pemain bertahan bergerak ke satu arah saja, antara belakang atau bergeser kanan-kiri.            

Eksekusi umumnya bola diagonal digunakan untuk mengeksploitasi area yang underload. Setelah tim melakukan overload di satu sisi, tim tersebut akan mengeksploitasi sisi jauh yang lebih lemah dengan bola diagonal tersebut. Dalam kasus Liverpool melawan Everton bola diagonal tersebut banyak bergulir dari sisi kanan ke kiri, baik secara langsung maupun melalui ‘konektor’ di area tengah. Dari heat map, pemain di sisi kanan yang menjadi asal umpan umumnya lebih rendah, sementara pemain di sisi kiri yang menjadi tujuan memiliki posisi lebih tinggi.

Sisi kanan Liverpool, tempat mayoritas bola diagonal berasal, merupakan sisi pertama bagi The Reds untuk melakukan overload. Alexander-Arnold, Henderson, dan Salah memiliki kemampuan untuk hold up play lewat bola pertama serta kualitas umpan diagonal yang apik untuk memindahkan bola ke sisi kiri. Di sisi jauh, Mane dan Robertson kerap menjadi target bagi umpan-umpan tersebut. Kombinasi keduanya terbukti menjadi isu bagi pertahanan Everton dalam gol pertama yang dicetak Mane di menit ke-3.

Eksploitasi area kiri Liverpool (atau kanan Everton) juga didasari oleh blok pertahanan Everton itu sendiri. Sempat disinggung sebelumnya di mana Everton kerap menyesuaikan formasi menjadi 4-4-2 ketika pressing blok tinggi. Dalam blok tersebut, sayap kanan Everton, James, naik sejajar dengan Calvert-Lewin di lini terdepan. Hal ini membuat transisi dari blok tinggi 4-4-2 ke blok rendah 4-5-1 menjadi terhambat di sisi kanan. Konsekuensinya, Doucoure sebagai gelandang terdekat harus mengcoverarea yang luas di lini tengah. 

Dua aspek tadi dikombinasikan dengan staggering yang ideal dari pemain Liverpool. Ketika bola diumpan langsung, pemain-pemain Liverpool di dalam blok Everton bertugas untuk ‘mengikat’ pemain bertahan lawan untuk menciptakan ruang di sisi jauh. Dalam hal ini prinsip-prinsip permainan seperti, widthdepth, dan koneksi terjalin dengan baik. 

Permainan direct Everton, dan bagaimana Everton memanfaatkan kreativitas James

Pressing Liverpool, seperti yang sempat disinggung sebelumnya membuat Everton sulit melakukan build-up secara konstruktif. Salah satu jalan keluar yang kerap dipakai Everton adalah umpan panjang ke lini depan. Meski terlihat ‘terpaksa’, beberapa kali Everton terlihat melakukan set-up untuk bola-bola panjang. Mekanisme tersebut juga beberapa kali membuat Everton mendapatkan situasi menjanjikan.

Umpan panjang ke lini depan kerap diinisiasi oleh Pickford. Sasarannya adalah Calvert-Lewin dan Richarlison yang punya postur cukup mumpuni untuk duel udara. Dari situasi tersebut diharapkan James mampu memenangkan bola kedua untuk melanjutkan progresi serangan.

Liverpool sendiri cukup siap untuk hal ini. Matip, Gomez, dan terkadang Fabinho menjadi pemain yang melakukan marking sekaligus antisipasi bola pertama. Sementara pemain sekitarnya, seperti fullback menjaga kerapatan untuk mengantisipasi bola kedua.

Cara Everton untuk memanfaatkan situasi tersebut adalah dengan membuat set-up yang bisa merenggangkan blok Liverpool agar ruang untuk bola kedua lebih luas. Biasanya dua bek tengah dan No. 6 akan berada di area sendiri ketika goal kick walaupun Pickford akan tetap melakukan umpan panjang. Hal tersebut akan memancing pemain depan lawan melakukan pressing ke depan sehingga  membuat jarak antarlini Liverpool menjadi semakin besar.

Solusi lain bagi Everton adalah memaksimalkan kreativitas James Rodriguez. Kehadiran pemain asal Kolombia tersebut memberikan tambahan kekuatan bagi anak asuh Ancelotti. Salah satu mekanisme yang kerap dilakukan Everton adalah melakukan rotasi dan overload di area kanan tempat James beroperasi untuk membuat eks pemain Real Madrid itu bisa memiliki ruang dan sudut yang baik untuk melakukan umpan diagonal. Mekanisme ini biasanya dilakukan dengan pergerakan diagonal Doucoure ke arah James, sehingga membuat situasi 2v1 melawan bek sayap lawan di sisi tersebut. Dengan begitu, James bisa melakukan cut inside dan berakhir dengan ruang dan sudut yang luas untuk melanjutkan serangan.

Meski mekanisme ini relatif sulit ditemui karena pressing ketat Liverpool, namun ketika James bisa melakukannya maka Liverpool berada di dalam bahaya. Hal ini terjadi sebelum gol penyama kedudukan. Mekanisme tersebut bisa membuat James memiliki ruang untuk memberikan umpan terobosan kepada Calvert-Lewin. Penyerang tim nasional Inggris tersebut kemudian bisa melakukan tembakan dari sudut sempit yang menghasilkan sepak pojok, yang kemudian dikonversi menjadi gol oleh Keane.

Kesimpulan 

Laga derby kali ini menghadirkan duel yang cukup menarik. Seperti ekspektasinya, Everton yang sedang on fire tampil proaktif menghadapi tetangganya yang merupakan juara bertahan. Meski dalam banyak aspek Liverpool lebih dominan, Everton terlihat bisa mengimbangi dominasi tersebut bahkan beberapa kali memberikan ancaman walaupun dari situasi yang tidak ideal. Di sisi lain, Liverpool tentu sedikit menyesali kegagalan mereka meraih poin penuh setelah dua kali unggul (dan gol kemenangan yang dianulir). Selain itu, pekerjaan rumah Klopp di area pertahanan menjadi semakin banyak usai cederanya Van Dijk yang diprediksi bakal absen untuk waktu yang lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *