Analisis Pertandingan

Manchester United di Bawah Solksjaer (Manchester United vs Bournemouth)

Strategi Ole Gunnar Solksjaer di Man United adalah menyerang tanpa membiarkan lawan berkembang. Filosofi sepakbola menyerang yang seolah hilang di Manchester United dihidupkan kembali oleh Solksjaer setidaknya dalam beberapa pertandingan terakhir. Termasuk dalam pertandingan lawan Bournemouth ini. Dalam aplikasi strategi menyerang tersebut Solksjaer menerapkan beberapa taktik.

Bermain dari belakang

Ketika memegang bola, MU akan bermain dgn 3 org di belakang bola. 2 bek & 1 defensive midfielder (DM) yg turun. Ini bukan hal baru, di artikel yang ditulis Football Decode dengan judul The Evolution of “La Salida Lavolpiana” seorang DM yang turun sudah diperkenalkan oleh Ricardo La Volpe. Uniknya, peran DM yg turun ini selalu bertukar (swap) tergantung arah serangan yg akan dibangun. Karena Bournemouth bermain dengan blok rendah, pressing terhadap pertahanan tidak terlalu intens. Baik Herrera maupun Matic cukup bebas membangun serangan dari belakang. 

Matic turun untuk membangun serangan ketika bola berada di sisi kiri
Herrera akan mengisi pos bek ketika bola ke arah kanan
Herrera bahkan menjadi bek tengah

Counterpressing & High Press

Counterpressing adalah kondisi saat bola lepas dr penguasaan, pemain akan melakukan pressing secara unit. Counterpressing dilakukan sesegera mungkin bahkan di area lawan. Tujuan pressing tidak hanya untuk merebut bola namun agar lawan melakukan kesalahan dengan mempersempit area bermain. Blok menjadi tinggi (high press) & jarak antar lini menjadi rapat. Setiap taktik akan menimbulkan resiko, dalam hal ini akan banyak ruang di belakang bek yang bisa dimanfaatkan lawan dengan serangan balik menggunakan striker yang punya kecepatan. Apakah saat dilatih Mourinho, MU tidak melakukan counterpressing? Jawabannya adalah sama melakukan counterpressing namun yang membedakan jarak antar lini (striker, midfielder, bek). Karena Mou berpikiran bertahan, jarak antar lini tengah dan bek jauh. Sehingga ruang di belakang bek tidak bisa dieksploitasi. Namun ruang di depan bek sangat lebar. Selalu ada kurang lebihnya bukan? Inilah yang membuat taktik selalu dinamis karena tidak ada satu tim manapun yang mampu menguasai seluruh ruang dalam lapangan sepakbola.

Counterpressing era Solksjaer dengan garis yang tinggi dan jarak yang rapat

Asimestrical Overload

Jika boleh saya bilang, ini merupakan kunci taktik di samping taktik terakhir (free roam). Pemain akan ‘dibebaskan’ untuk meninggalkan posnya guna membuat superioritas numerikal pemain di salah satu sisi. Di 3 pertandingan awal, pemain cenderung menumpuk di sisi kiri, jika menilik ke apa yang dikatakan Solksjaer dalam wawancaranya, maka ini yang dimaksud membangun tim di sekitar Pogba. Ya, asimetris & overload. Penumpukan pemain di sisi kiri akan ‘memaksa’ pemain lawan utk menambal kekurangan pemainnya. Sedangkan di sisi kanan akan memberi ruang utk fullback (Young). Jika ingat peluang Dalot di depan kotak penalti, itu karena kondisi seperti ini. Juga gol Herrera vs Cardiff. 

Heatmap yang menunjukkan lebih sering bola dimainkan di kiri
Pogba berada di halfspace

Peluang Dalot, gol Herrera diciptakan seperti kondisi di atas

Swap Posisi/Free Roam

Di atas sudah dijelaskan swap posisi antara Matic & Herrera. Di depan, Lindgard & Pogba diberi kebebasan utk melakukan roam ketika bola sudah masuk 1/3 lapangan akhir. Ketika membangun serangan, Pogba diberi tugas untuk eskploitasi halfspace. Di menit 28, Martial juga bermain di kanan. 

Martial di kanan & turun untuk menciptakan ruang bagi Young

Tambahan

Di babak kedua Solksjaer mengendurkan blok tingginya & bertahan secara zonal. Hal ini dilakukan karena sudah unggul & menjaga stamina pemain. Masuknya Lukaku mempermudah Solksjaer utk memainkan umpan jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *