Analisis Pertandingan

Manchester United vs Burnley – Batu Sandungan dari Tim-tim yang Solid dalam Bertahan

Kemenangan beruntun Manchester United harus terhenti di tangan Burnley. Taktik Sean Dyche untuk melakukan bertahan ajeg dengan melakukan pressing terhadap bek United di babak pertama membuat United kesulitan membangun serangan. Terlebih, strategi menyerang dari kiri (Pogba) diantisipasi dengan baik oleh Burnley.

Formasi & Solidnya Pertahanan Burnley

Di atas kertas Manchester United turun dengan formasi 4-3-3. Lukaku yang di pertandingan kemarin menjadi penyerang sayap kembali menjadi no. 9 yang berduet dengan Rashford di kiri & Mata di kanan. Sementara Burnley memainkan formasi 4-4-2 dengan 2 striker (Chris Wood & Ashley Barnes) yang hingga menit 20 aktif melakukan pressing. Keunggulan Burnley dalam pertandingan ini adalah organisasi dalam bertahan yang terbagi dengan 3 blok. Saat blok tinggi (high pressing) 2 striker Burnley akan aktif pressing intensitas tinggi ke 2 bek & pressing mundur ke pemain tengah United (Matic/Pereira/Pogba) jika bola diumpan ke pemain tersebut. Setidaknya pressing ketat ini dilakukan hingga menit 20 dengan tujuan merusak build up serangan dari awal. Hal ini yang menyulitkan pemain United untuk mengembangkan permainannya dari pemain belakang & pemain tengah. Terlebih dengan Pereira yang tidak cukup berani membawa bola. Kondisi ini juga yang membuat gol di babak kedua.

Pressing intensitas tinggi Burnley dengan jarak 2 striker & 2 midfielder yang dijaga agar tidak banyak waktu bagi pemain tengah untuk mengembangkan permainan

Saat harus bertahan dengan blok medium & rendah, Burnley secara kompak akan melakukan pressing kombinasi antara posisi (4-4-2) & pressing berorientasi pemain. Khusus untuk pressing pemain ini akan terlihat lebih intens jika bola berada di kiri pertahanan United.

Saat blok rendah mode pressing diubah menjadi pressing posisi + man oriented marking
Blok medium digunakan untuk menurunkan intensitas & menjaga stamina

Hal ini yang membuat United kesulitan menyerang dari sisi ini. Tidak adanya Herrera di sisi kanan cukup berpengaruh karena tidak ada pemain yang akan mengubah serangan ke kanan sehingga United banyak melepaskan umpan lambung karena jarak antar lini terlalu jauh. Selain itu terisolirnya Pogba & kualitas ball playing defender yang kurang bagus dalam memberikan umpan juga menjadi kendala. Jika kualitas CB dalam hal passing range tinggi, maka umpan lambung ke Lukaku dengan akurat bisa membongkar pertahanan Burnley (physically).

Pemain tengah dalam isolir, jika menguasai bola, pemain di depan akan pressing ke belakang

Terjadinya Gol Pertama Sesuai Skenario Dyche

Gol pertama Burnley terjadi sesuai skenario Sean Dyche. Setelah menurunkan intensitas pressing di pertengahan babak (menjaga stamina), Burnley kembali bermain dengan intensitas tinggi di awal babak kedua. Taktik ini membuahkan hasil karena United tak kunjung mampu membongkar model pressing Burnley.

Sesaat setelah Matic melakukan Salida Lavolpiana dengan menjauh dari 2 CB, Pereira nampak ragu untuk masuk menggantikan posisi Matic. Keraguan ini dibaca oleh Jack Cork & Jones yang seperti diutarakan di awal tidak memiliki passing range yang bagus memilih umpan ke Pereira yang sebetulnya sudah dalam keadaan terkunci. Kondisi terkuncinya:
– Matic dalam jangkauan Hendrick, Jones memilih Pereira yang secara visual lebih kosong
– Pereira tidak melihat banyak opsi, tidak melakukan shoulder check. Di blind side (belakang punggung) ada opsi yang lebih bebas.
– Westwood menutup jalur umpan ke Rashford & Pogba (cover shadow)
– Cork sudah siap melakukan pressing Pereira & Barnes juga seperti diutarakan di ilustrasi pertama, melakukan backward pressing (pressing mundur)

Kondisi Pereira sesaat sebelum menerima bola
Pereira sesaat sebelum kehilangan bola

Reaksi Solskjaer

Untuk memecah pressing terhadap pemain tengah, United butuh tambahan pemain yang biasanya dilakukan Lingard (false 9). Setelah kebobolan, Rashford jadi lebih banyak memainkan peran ini dengan turun ke tengah. False 9 bukan sekedar pemain depan yang turun ke tengah/belakang. Tujuan taktik ini untuk melawan superioritas jumlah lawan.

Lingard dimasukkan menggantikan Pereira sehingga Mata ditarik lebih ke belakang menggantikan posisinya. Sementara Sanchez menggantikan Lukaku. Tidak banyak space di belakang bek yang bisa dieksploitasi Sanchez namun Solskjaer sepertinya mengharapkan 3 pemain di depan yang eksplosif ini mampu menekan pertahanan Burnley. Lewat crossing, lewat umpan lambung, United melakukan berbagai cara untuk menciptakan peluang. Namun penampilan baik pertahanan Burnley (termasuk Heaton) membuat peluang yang diciptakan tidak membuahkan gol. Justru Burnley mencetak gol di menit 81 lewat crossing Westwood yang dimanfaatkan dengan baik oleh Wood. Meski bertahan dengan 5-4-1, dalam menyerang Burnley cukup berani dengan menempatkan 3-4 pemain di dalam kotak penalti lawan.

Kesimpulan

Meski skor 2-2, namun statistik expected goals kedua tim sangat jauh, Manchester United 2.87 v 0.93 Burnley. Dari statistik ini bisa diambil kesimpulan jika Burnley tidak banyak menghasilkan peluang namun bisa mengkonversi peluang-peluang yang ada dengan 2 gol. Sementara Manchester United dengan nilai 2.87 seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol. Faktor-faktor pertahanan yang baik, penampilan Heaton yang baik juga menjadi kendala. Namun finishing juga harus lebih klinis, terutama Rashford yang menyianyiakan 2 peluang emas yang 1 diantaranya memiliki nilai xG tinggi (0.56) yaitu peluang di awal babak pertama.

Melawan tim yang bertahan dengan baik membutuhkan gol cepat di awal agar memudahkan jalannya pertandingan selanjutnya. City sebelumnya melawan Burnley & berhasil unggul cepat dengan sepakan Danilo dari luar kotak penalti. Pertandingan selanjutnya melawan Leicester yang bermain dengan blok rendah & rapat antar 2 lini (belakang & tengah). Meski taktik berbeda, melawan tim berstrategi sama akan jadi tantangan tersendiri buat Solskjaer di laga selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *