Analisis Pemain

Marc Klok: Si Nomor 10 yang Cakap Bermain sebagai Nomor 6

Keberadaan pemain ‘Nomor 6’ dalam sebuah tim sepak bola bisa memicu perdebatan serius. Posisi nomor enam, jika Anda melihat grafik posisi pemain berdasarkan nomor urut, adalah seorang gelandang yang tepat berada di depan bek tengah. Ia bisa disebut gelandang bertahan, tapi sangat sering pemain top di posisi itu tak dikenal lewat atribut bertahannya. 

Andrea Pirlo, misalnya, walau beroperasi sebagai gelandang paling dalam, ia jarang disebut sebagai gelandang bertahan. Orang Italia menyebut peran Pirlo sebagai regista, atau dalam bahasa Inggris disebut deep-lying playmaker

Tim Chelsea pada era Maurizio Sarri juga sempat mengalami krisis identitas mengenai pemain nomor enam. Saat itu, terdapat N’Golo Kante yang memiliki atribut kontras dari gelandang kepercayaan Sarri yang baru datang dari Napoli, Jorginho. 

Posisi terbaik keduanya adalah pemain nomor enam (gelandang bertahan) tetapi orang tak akan mengatakan mereka adalah pemain yang sama. Jorginho sangat nyetel dalam sistem Sarri karena ia memiliki kemampuan distribusi, sedangkan Kante sudah membuktikan mampu menjadi gelandang ‘bertahan’ alot bersama Antonio Conte. 

Di Indonesia, posisi nomor enam pernah identik dengan nama-nama seperti Ponaryo Astaman, Ahmad Bustomi, Bayu Pradana, hingga belakangan Luthfi Kamal. Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong memilih tak memiliki nomor enam, ‘definitif’.

Lantaran dalam sejumlah laga timnas U-19 (Shin Tae-Yong baru melakoni dua laga uji coba bersama timnas senior), ia memilih formasi 4-4-2, dengan tak ada pemisahan baku antara gelandang dengan tugas menyerang dan tugas bertahan.

Saya merasa tak berguna menulis ini karena barangkali Coach Sin tak memerlukan rekomendasi pemain nomor enam. Namun saya melihat satu pemain dengan edukasi sepak bola bereputasi, yang baru saja mematenkan posisi nomor enam di Piala Menpora 2021. Ia adalah Marc Klok, gelandang naturalisasi asal Belanda yang belum mendapat kesempatan membela timnas Indonesia

Evolusi Peran

Klok telah mengalami evolusi sejak tiba di PSM Makassar pada 2017. Penelusuran singkat melalui Transfermarktmenunjukkan ia beroperasi di sejumlah posisi lini tengah Juku Eja. Produk akademi FC Utrecht itu paling tidak menempati tiga posisi, yakni salah satu gelandang dalam duet gelandang bertahan, pemain nomor sepuluh, hingga gelandang (sayap) kanan. 

Klok telah bermain sebagai gelandang bertahan sejak di PSM, benar, tetapi ia lebih sering berduet dengan pemain lain lain, seperti M. Arfan, Rasyid Bakri, hingga Rizky Pellu. Atribut ofensif Marc Klok— 17 gol dan 12 asis di semua ajang dalam 2.5 musim bersama PSM—tentu membuat pelatih tergoda untuk memainkan dia dalam peran lebih ofensif, ketimbang peran lebih dalam di depan bek. 

Memasuki 2021, Klok memiliki tanggung jawab baru di Persija Jakarta. Pelatih Sudirman terlihat memiliki keterbatasan di lini tengah, dengan sejumlah pemain lokal yang fisiknya drop, sedangkan gelandang asing Rohit Chand belum kembali dari Nepal. Dalam keadaan ‘krisis’ seperti itu, Klok mengambil alih tugas sebagai pemain nomor enam dengan atribut ofensif dan defensif sama baiknya. Satu hal lagi, ia juga adalah eksekutor bola mati. 

Tidak langsung jadi ‘Nomor Enam’

Marc Klok berdiri di depan, dalam posisi nomor 8 (gelandang tengah), lebih tinggi dari Tony Sucipto yang menempati nomor enam (gelandang bertahan) pada laga perdana kontra PSM (22 Maret).

Dalam pergelaran Piala Menpora 2021, Persija menggunakan formasi 4-1-4-1/4-3-3. Formasi ini menggunakan trio gelandang, di mana terdapat satu pemain nomor enam (gelandang bertahan) dan dua pemain nomor delapan (gelandang tengah). Pada laga pertama, Sudirman belum menyadari potensi Klok sebagai pemain nomor enam. Klok pada mulanya bermain sebagai pemain nomor delapan (gelandang tengah) saat melawan PSM Makassar (22/3/2021), dengan Tony Sucipto menempati posisi nomor enam (gelandang bertahan). Singkatnya, Tony mengemban peran lebih bertahan, sedangkan Klok memiliki tugas lebih menyerang. 

Namun, kita bisa melihat kesadaran defensif Klok yang lebih baik dari Tony pada situasi gol pertama PSM yang dicetak Patrich Wanggai. Saat Rasyid Bakri menerima umpan dari Yakob Sayuri, Klok segera menyadari bahaya yang hendak dibawa Yakob. Posisi awal Tony sebenarnya lebih dalam dari Klok tetapi ia tampak berdiri terlalu tinggi, sehingga sempat tercipta jalur umpan kepada Wanggai maupun Rizky Eka di seberang lapangan. 

Klok lebih dulu menyadari bahaya progresi yang dilakukan Yakob dan Rasyid, sementara Tony terlihat berdiri statis
Klok melakukan sprint untuk menutup ruang bagi Yakob, sedangkan Tony tertinggal dan tak terlibat dalam situasi pertahanan. Gol pun tercipta

Klok lantas lebih dulu tiba di depan kotak penalti Persija ketimbang Tony, sebagaimana terlihat dalam gambar di atas.Wanggai berada dalam posisi titik buta di belakang Klok, sehingga mampu menerima bola yang tak sempat dipotong Klok. Di sisi lain, Tony justru tak terlibat dalam situasi ini. Hanya naluri striker Wanggai dan blocking tak sempurna Yann Motta dalam menutup ruang tembak yang mampu membuat gol tercipta dalam posisi balik badan sang striker. 

Laga itu berakhir dengan kekalahan 0-2 bagi Persija. Dalam statistik yang disediakan Lapangbola.com, Tony yang diberi tugas sebagai gelandang bertahan hanya mencatatkan 1 sapuan, 1 intersep, dan 2 ball recovery. Sementara itu, Klok memiliki catatan lebih baik walau memiliki peran lebih menyerang, yakni 2 sapuan, 7 intersep, dan 2 ball recovery.

Satu hal yang disadari Sudirman dari laga di atas, Klok menawarkan atribut defensif lebih baik daripada Tony. Oleh karena itu, perubahan dilakukan pada laga kedua, yakni menukar posisi Klok dan Tony. Pada laga kontra Borneo FC (27Maret), Klok mempertontonkan visi bermain berikut kemampuan mengoper, serta keandalan mengeksekusi bola mati.

Visi dan operan

Klok memulai posisi sebagai nomor enam (gelandang bertahan) pada laga kedua menghadapi Borneo FC (27 Maret).

Pada laga ini, Klok dipasang tepat di depan duet Yann Motta dan Otavio Dutra, sedangkan Tony berada lebih jauh di depan. Namun, Persija tidak terlalu sering melakukan bangun serang dari bawah, sehingga keterlibatan Klok dalam fase ofensif menjadi minimal. Ini aspek yang perlu ditelusuri lagi, seandainya Persija mau memanfaatkan kemampuan operan dan visi Klok. 

Klok saat mengawali gol keempat Persija pada laga kontra Borneo FC.

Kemampuan operan itu langsung terbukti pada akhir pertandingan, saat Klok menerima umpan dari Novri Setiawan di paruh lapangan sendiri. Klok sebenarnya berada dalam posisi membelakangi area permainan lawan. Namun ia menyadari ada celah di antara dua pemain Borneo FC, untuk kemudian menggulirkan bola ke ruang itu sembari melihat kondisi di sekitarnya (scanning). Dari situ, ia melihat Osvaldo Haay memiliki ruang besar di belakang pertahanan lawan, lalu melepas umpan ke Osvaldo. Pergerakan itu diakhiri gol Marko Simic usai menerima umpan dari Osvaldo.

Umpan jauh dilepas Klok menuju Osvaldo Haay, yang siap berlari ke bagian belakang pertahanan PSM.

Dalam dua laga di atas, kita bisa membandingkan kemampuan mengatur serangan Klok yang lebih mumpuni ketimbang Tony sebagai pemain nomor enam (gelandang bertahan). Pada laga pertama, Tony hanya mencatatkan total operan sebanyak 22 umpan. 

Pada laga kedua, Klok mencapai jumlah lebih banyak, yakni 37 umpan. Hal itu terlihat dari kemampuan Klok mengambil bola lebih dini pada laga kontra Borneo FC, ketimbang Tony yang lebih sering tak dilibatkan dalam bangun serang saat melawan PSM. Bahkan, pada laga melawan PSM, dalam beberapa kesempatan Klok justru menjadi pemain yang menjemput bola di area half-space, meski terdapat Tony yang berada di tengah. 

Klok dengan tugas menerima bola dari bek tengah
Berbeda dengan Klok, Tony tak banyak dilibatkan dalam bangun serang Persija.
Klok menjemput bola dari bek tengah walau berposisi sebagai nomor delapan (gelandang tengah). Klok melakukan ini dengan cara turun hampir sejajar bek tengah dari posisinya sebagai gelandang tengah kiri Persija.

Eksekutor bola mati

Selain itu, Klok juga membuktikan bisa menjadi eksekutor bola mati andal. Laga melawan Borneo FC bisa menjadi demonstrasi positif untuk kemampuannya itu, saat ia mengambil lima tendangan bebas dan enam sepak pojok bagi Persija. Dua gol Persija di laga itu, yang dicetak Marco Motta dan Yann Motta, berasal dari situasi sepak pojok. Jenis umpan yang dikirim Klok pun sama, yakni umpan silang melengkung ke dalam (in-swing) ke kotak 6 yard, persis ke area kiper. Persija tampak ingin memanfaatkan para pemain asing jangkung di tim, seperti Yann Motta, Marco Motta, dan Otavio Dutra, untuk meneror kiper Gianluca Pandeynuwu dan Angga Saputro.

Eksekusi sepak pojok Marc Klok selalu diarahkan ke muka gawang

Tugas ‘kotor’ sebagai gelandang perusak

Dibanding pada laga kontra Borneo FC, Klok mendapat peran defensif tambahan pada laga melawan Bhayangkara Solo FC (31 Maret). Hal tersebut merupakan bentuk reaksi Sudirman mengingat Bhayangkara Solo FC memiliki pemain dengan peran nomor sepuluh (gelandang menyerang), yakni Renan Silva. Orang yang ditugaskan untuk menghentikan Renan Silva, tak lain dan tak bukan, adalah Klok. 

Dalam situasi bangun serang, Klok tetap menempati nomor enam (gelandang bertahan), seperti saat menerima umpan dari Otavio Dutra. Ia mencatatkan 25 umpan sukses pada laga itu, lebih tinggi dibanding Ramdani Lestaluhu dan Tony Sucipto yang mengapitnya pada pertandingan tersebut. Lebih dari itu, Klok melakukan tugas ekstra untuk menjaga Renan, termasuk hingga keluar dari area tugasnya. Ia pun mengoleksi tiga pelanggaran pada laga itu, dengan dua di antaranya dilakukan terhadap Renan. 

Marc Klok dalam bangun serang timnya pada laga kontra Bhayangkara Solo FC (31 Maret).
Situasi Klok yang naik dari posisinya untuk mengawal Renan
Tidak hanya ke depan, Klok juga kerap mengikuti Renan jika dia bergerak ke bagian sayap
Klok melakukan pelanggaran taktis (tactical foul) pada Renan Silva

Pada situasi di atas, Renan mampu melewati Klok setelah menerima umpan dari lemparan ke dalam Alsan Sanda. Namun, Klok yang menyadari sang musuh memiliki ruang luas setelah melewati dirinya, langsung melakukan pelanggaran taktis pada Renan Silva. Pelanggaran di titik itu mengandung risiko lebih minim ketimbang membiarkan Renan Silva merangsek berhadapan dengan dua bek tengah dan satu bek kiri Persija. 

Puncak pengaruh Klok bagi Persija pada laga itu adalah ketika ia mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-78. Klok, sebagai gelandang terakhir, melihat Evan Dimas akan gagal saat menghadapi bola sapuan dari rekannya, dan memilih menunggu bola untuk memantul. Hal ini ia lakukan agar bisa bergerak menuju ruang di belakang Evan. Klok melanjutkan aksinya dengan memindahkan bola ke kaki terkuatnya, kaki kanan, untuk kemudian melihat ruang tembak. Tembakan itu dilepas Klok menuju pojok kanan bawah yang gagal dijangkau kiper Indra Adi. 

Klok saat mengawali gol penentu kemenangan kontra Bhayangkara Solo FC. Klok menunggu Evan yang gagal menguasai bola sebelum akhirnya menyerang ruang yang terbuka

Pemain terbaik turnamen

Pada laga gugur menghadapi Barito Putera dan PSM (dua leg), Klok masih menempati posisi nomor enam (gelandang bertahan). Hasilnya tak terlalu buruk, dengan Persija selalu mencatat nirbobol pada tiga laga itu. Tugas terakhir di partai final melawan Persib Bandung pun sudah dituntaskan, dengan Persija meraih trofi Piala Menpora 2021 berkat keunggulan agregat 4-1. Tidak hanya itu, Klok pun berhak pulang dengan meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik dalam turnamen kali ini

Dengan kemampuan playmaking (visi dan operan) dari posisi terdalam, eksekusi bola mati yang akurat, serta kemampuanbermain ‘kotor’, Marc Klok telah membuktikan bahwa, walaupun bernomor punggung 10, ia adalah (salah satu) gelandang bertahan terbaik Indonesia saat ini. Kini, Coach Shin Tae-yong tampak memiliki satu nama paten untuk menentukan satu posisi gelandang pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 yang akan mulai digelar Juni mendatang. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *