Teori Taktik

Mengenal Fase-Fase dalam Sepakbola (Phase of Play)

Liverpool secara mengejutkan kalah dari Aston Villa dengan skor 7-2. Sebuah kekalahan yang bakal jadi catatan kelam sejarah juara Premier League 2020 ini. Paling mencolok dari pertandingan ini adalah skor yang begitu besar. Uniknya, dilihat dari possession, Aston Villa hanya memegang bola sekitar 30% sementara Liverpool 70%.

Artinya apa? Dengan hanya menguasai bola sebanyak 30% dari total 90 menit, Aston Villa bisa mencetak 7 gol. Sementara selama 70% dari total 90 menit klub yang dikapteni Jack Grealish ini harus bertahan & kebobolan 2 gol.

Penguasaan Bola sebagai Parameter Fase

Semenjak Opta berhasil mencatatkan penguasaan bola ke dalam statistik, sepakbola mempunyai parameter untuk mengukur seberapa menyerang sebuah tim. Semakin tinggi prosentase penguasaan bola, maka dianggap semakin menyerang tim tersebut. Menguasai bola artinya tim tersebut dalam fase menyerang. Sementara tim yang tidak menguasai bola artinya dalam fase bertahan.

Di antara 2 fase tersebut ada fase transisi negatif (defensive transition) dan fase transisi positif (offensive transition). Transisi negatif adalah fase dimana sebuah tim kehilangan bola dan harus bertahan. Sementara transisi positif adalah fase dimana tim baru saja merebut bola dan memulai penguasaan bola. 4 fase ini tidak dapat dipisahkan dan semua fase sangat penting di dalam sepakbola.

Sebagai contoh pertandingan Aston Villa vs Liverpool tadi. Dengan hanya tidak menguasai bola alias melewati fase bertahan selama kurang lebih 33 menit saja (30% dari 90 menit), Liverpool bisa kebobolan 7 gol. Ini menunjukkan tiap fase baik menyerang ataupun bertahan sangat krusial. Tidak terkecuali untuk tim yang selalu memegang penguasaan bola (menyerang).

Gameflow Liverpool vs Aston Villa selama 90 menit

Pembagian Fase Menyerang

Mengutip Filanesia, fase menyerang dibagi menjadi dua, yaitu fase bangun serangan (build up) dan fase penyelesaian serangan. Build up sendiri sering disalahartikan dengan passing pendek dari belakang. Jika merujuk pada pengertian, yang namanya bangun serangan bisa juga dilakukan secara langsung/direct ke depan memanfaatkan umpan jauh/long pass.

Sedangkan fase penyelesaian serangan adalah fase lanjutan dari build up tadi. Apabila build up sukses maka akan menghasilkan peluang. Pemanfaatan peluang ini masuk dalam fase penyelesaian serangan. Jika sukses akan terjadi gol. Jika gagal namun bola masih dikuasai berarti sifatnya netral. Sedangkan jika tidak gol namun bola terebut maka disebut gagal.

Pembagian Fase Bertahan

Dalam fase bertahan juga terdapat 2 pembagian, yaitu: fase mengganggu bangun serangan dan fase mencegah lawan selesaikan serangan. Fase inilah yang jadi lawan dari 2 fase menyerang di atas. Salah satu contoh aksi bertahan yang dewasa ini populer adalah high pressing atau pressing di area yang tinggi. Dan high pressing ini masuk di fase mengganggu bangun serangan lawan.

High pressing yang dilakukan Chelsea ketika Arsenal bangun serangan

Fase Transisi Negatif (Defensive Transition)

Fase ini terjadi ketika sebuah tim baru kehilangan bola. Aksi yang terjadi saat bola diantaranya adalah segera merebut bola kembali (counterpressing) atau membentuk kembali pertahanan (reshape).

Gol Keita diawali dengan situasi counterpressing

Belakangan, manager-manager top dunia mulai memperhatikan detail-detail transisi negatif ini. Pep Guardiola dengan ‘six second rule’ atau merebut bola segera dalam waktu 6 detik. Jika gagal maka akan reshape. Atau Jurgen Klopp dengan gegenpressing/counterpressing-nya yang menitikberatkan di intensitas dan mengubahnya menjadi serangan balik kilat ketika bola berhasil direbut.

Fase Transisi Positif (Offensive Transition)

Fase ini adalah letak serangan balik (counter attack) berada. Artinya, setelah bola terebut, tim akan segera melakukan serangan balik dengan mengarahkan bola ke depan baik lewat operan atau drible, alih-alih menguasai bola terlebih dahulu dengan operan pendek ke belakang/samping.

Transisi positif ini belakangan juga menjadi fase berbahaya. Seperti dalam kasus di atas, Aston Villa yang memanfaatkan fase ini dengan melakukan serangan balik cepat. Karena umumnya, tim yang sedang dalam fase menyerang bermain dengan garis yang tinggi sehingga menyisakan banyak ruang di belakang garis pertahan.

Kesimpulan

Empat fase dalam sepakbola ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Setiap aksi di dalamnya memunculkan reaksi bagi lawan. Pekerjaan detail di setiap fase, belakangan mulai dikerjakan secara rinci. Semakin detail tiap tim bekerja dalam tiap fase, maka semakin besar pula keberhasilan tim dalam mendekati kemenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *