Analisis Pertandingan

Minimnya Mekanisme Membuka Ruang dan Sirkulasi – Analisis Taktik Indonesia vs Malaysia

Indonesia berhadapan dengan Malaysia di laga perdana kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Pertandingan yang berkesudahan dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu tersebut membuat langkah awal Indonesia terasa berat. Bagaimana Indonesia menjaga asa di grup ini lewat analisis taktik pertandingan kemarin?

Mekanisme Bangun Serangan (Build Up)

Saat mendapatkan goal kick, tendangan langsung dari kiper ke depan (direct build up) akan membuat persentase penguasaan bola menjadi 50:50. Artinya, tim penyerang memberikan 50% kemungkinan untuk menguasai bola kepada lawan. Dengan bangun serangan pendek (short build up), kemungkinan penguasaan bola masih dipegang bisa lebih tinggi. Ini yang membuat sepakbola modern, terutama tim yang tidak memiliki keunggulan udara, akan melakukan bangun serangan pendek dari kiper ke bek. Taktik short build up sendiri berkembang pesat bahkan aturan goal kick yang baru diciptakan untuk mengakomodir build up dari bawah. Beberapa prinsip-prinsip dalam melakukan build up akan dijabarkan dalam analisis ini.

Situasi sebelum gol pertama Malaysia dimana terjadi build up direct (kiper ke depan) gagal dan langsung menempatkan Indonesia dalam situasi underload (kalah jumlah). Long build up juga bisa menjadi riskan.

Secara positif, pelatih Simon McMenemy ingin timnya membangun serangan dari bawah. Taktik awal yang dilakukan McMenemy adalah memainkan Manahati sebagai center back. Manahati, seperti kita ketahui merupakan defensive midfielder di PS Tira. Digunakannya Manahati sebagai CB dengan tujuan dia dapat memanfaatkan bola di belakang layaknya DM (ball playing defender). Taktik ini yang digunakan Pep Guardiola saat memasang Mascherano sebagai CB.

Kendala di Fase Awal ke Fase Kedua

Mourinho dalam melakukan analisis build up sebuah tim membagi menjadi 3 fase. Fase awal adalah fase bangun serangan di sepertiga awal. Sementara fase kedua dan ketiga adalah di fase sepertiga tengah dan sepertiga akhir. Build up fase awal Indonesia dilakukan dengan 2 CB dan 1 DM yang turun dengan 2 fullback naik. Hal ini dilakukan untuk menciptakan keunggulan jumlah dengan presser Malaysia (3 v 2). Namun, turunnya Evan Dimas tidak dikompensasi dengan turunnya no. 10 (Lilipally) sehingga nampak Zulfiandi dalam kondisi 1v2 ke depan dan bisa menjadi 1v4 saat striker lawan melakukan pressing mundur.

Nampak pemain Malaysia melakukan high pressing dengan 6 pemain yang artinya menyisakan 4 bek saja di belakang. Ruang yang dicover oleh no. 6 Malaysia juga terlalu luas. Jika Lilipally turun, akan memberi pilihan sulit bagi no. 6; melakukan man marking namun membuat ruang antar lini luas dan bek terekspos atau tidak marking namun akan tercipta akses umpan kombinasi Lilipaly-Zulfiandi.

Dalam build up ini akhirnya dengan akurasi yang tinggi Evan Dimas mampu memberi umpan ke Yustinus Pae. Namun, DM yang menjaga Lilipally mampu menutup pergerakan Pae & memaksanya mengumpan ke belakang karena akses untuk melakukan progresi ke depan tertutup. Situasi ini tidak akan terjadi jika DM lawan ‘terpancing’ melakukan marking Lilipaly yang turun. Pae bisa melakukan progresi ke depan dan menciptakan overload dengan Sadil.

DM Malaysia melepaskan marking ke Lilipaly dan segera menutup akses umpan Yustinus Pae ke Sadil atau ke Lilipaly.

Mekanisme turun ini disebut decoy, juga akan membuat lawan berfikir ekstra untuk melakukan marking atau stay. Seperti skenario di bawah, saat bek tidak ada opsi akses umpan, winger melakukan decoy dan FB lawan mengikuti. Ruang di belakang FB yang naik bisa dimanfaatkan oleh pemain lain dan dengan pin point pass (umpan 1-2) bisa mengakses pemain tersebut. Jika FB lawan memilih stay pun akan membuat winger menerima umpan dengan leluasa. Malaysia kerap melakukan mekanisme ini untuk membongkar pertahanan Indonesia.

Contoh pemanfaatan decoy oleh winger kanan yang turun menjemput bola. Fullback yang naik memanfaatkan ruang di belakang bek yang terpancing untuk marking winger tadi.

Transisi dari Bertahan ke Menyerang

Kecenderungan pemain Malaysia untuk melakukan counterpressing saat kehilangan bola berpengaruh terhadap mekanisme transisi ke menyerang pemain timnas. Hampir selama pertandingan tidak ada mekanisme untuk melakukan rebuild up (membangun serangan ulang) dengan melakukan umpan-umpan yang cederung ‘aman’ (ke belakang, samping). Sirkulasi bola-bola yang aman ini bertujuan untuk menetralisir pressing agresif Malaysia. Tanpa sirkulasi untuk rebuild up, Indonesia cenderung melakukan direct pass atau penetrasi individu untuk langsung counter attack yang cenderung sporadis. Tidak ada prinsip untuk melakukan check numbers (menghitung lawan vs kawan di daerah pertahanan). Akibatnya, situasi pemain yang mendapatkan umpan sering kalah jumlah.

Seperti situasi di bawah, setelah memenangkan bola tidak ada sirkulasi ke belakang meski unggul jumlah. Bola lebih banyak diumpan ke depan atau didrible ke depan dengan kondisi underload (kekurangan pemain di depan) sehingga mudah dipatahkan. 10 pemain di area sendiri, artinya hanya menyisakan 1 (Beto) vs 3 bek di depan (simply mathematics). Nampak Sadil juga masih di belakang.

Malaysia kehilangan bola dan Andik-Lilipaly tidak melakukan rebuild up dengan mensirkulasikan bola ke belakang.

Pun begitu gol kedua berawal dari transisi dari bertahan ke menyerang yang dilakukan secara direct. Malaysia kehilangan bola saat masih berada di pertahanan (FB kanan) sehingga situasi ini membuat keunggulan jumlah pemain Indonesia (Andik, Beto & Fano melawan 2 bek) saat terjadi counter attack.

Saat Sirkulasi Dilakukan

Di menit ke-16, Indonesia mencoba melakukan sirkulasi saat berhasil memenangkan bola. Dengan tenang build up dibangun kembali di belakang. Pergerakan Hansamu Yama dan mekanisme decoy Lilipaly membuat Sadil terbuka.

Proses rebuild up dan progresi ke depan oleh Hansamu yang berani melakukan drible untuk mengeliminasi pressing pertama Malaysia
Lilipaly Decoy memancing midfielder Malaysia naik. Sadil juga decoy memancing FB naik. Ada opsi untuk Pae naik tapi dalam situasi ini Sadil memilih melakukan half turn dan memberi umpan yang cantik ke Beto. Sayang kontrol Beto lepas dan melakukan pelanggaran.

Rangkaian sirkulasi dan rebuild up di atas menunjukkan bahwa Indonesia mampu bermain dengan umpan-umpan pendek jika seluruh pemain aktif memahami taktik dan tugas masing-masing meski tanpa bola. Juga menunjukkan high pressing Malaysia bisa dengan mudah dieliminasi. Tercatat, di menit ke-27 Indonesia juga melakukan bangun serangan pendek namun masih terlihat pemain depan tidak turun untuk membuka akses umpan (menunggu di depan).

Cara Bertahan Indonesia

Terlihat terutama di babak pertama, garis pertahanan Indonesia cukup tinggi. Taktik Indonesia dalam bertahan menekankan agar lawan jauh dari gawang. Garis akhir cenderung zonal dan pemain depan melakukan pressing sesuai zona. Saat harus turun, Indonesia terlihat cukup kompak, mengikuti arah bola dan tetap mempertahankan shape.

Malaysia banyak melakukan serangan lewat sayap karena rapatnya lini tengah Indonesia. Mekanisme bertahan di sayap ini harus diperbaiki. Nampak di atas Corbin (FB kiri) kosong. Saat FB lawan mendapat bola di sayap, koordinasi fullback dan pemain tengah harus baik. Celah antara fullback dan centerback akan dieksploitasi, untuk itu pemain tengah harus rapat.

Timing yang tepat antara pressing FB (Pae) dan cover CM harus tepat. Pae harus sabar menunggu CM melakukan cover posisinya sebelum pressing lawan di sayap

Kesimpulan

Pesan 1: Dalam melakukan build up dari belakang perlu support pemain tengah bahkan depan dengan melakukan decoy/ turun ke tengah. Decoy yang dilakukan ini akan menambah opsi umpan pendek sehingga mengurangi umpan-umpan jauh akibat tidak adanya pemain di tengah yang bisa diumpan.

Pesan 2: Sirkulasi dibutuhkan untuk menurunkan tempo, rebuild up, memberi kesempatan pemain untuk kembali ke posisi. Dengan melakukan sirkulasi pun pemain akan menghemat tenaga dan justru menguras tenaga lawan untuk mengejar bola. Untuk melakukan hal ini memang diperlukan awareness, composure (ketenangan) serta resistansi terhadap pressing yang tinggi.

Pesan 3: Di lapangan yang tercepat bukan pemain yang jago lari namun yang tercepat adalah bola. Sirkulasi dan progresi akan lebih efektif jika dilakukan dengan mengumpan, bukan dengan drible. Pemain harus rajin shoulder check untuk lebih meningkatkan awareness sekitarnya. Sehingga sebelum mendapatkan bola, pemain sudah tahu bola akan diarahkan kemana. 3 poin di atas yang membuat permainan timnas seolah direct.

Pesan untuk pembaca: analisis dibuat BUKAN UNTUK MENJATUHKAN timnas, pemain ataupun pelatih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *