Siapakah Shot-Stopper Terbaik dan Terburuk Musim Ini?

Kiper adalah garis pertahanan terakhir dari sebuah tim. Jika pertahanan di depannya gagal menghadang lawan dalam menyerang, maka pemain ini akan diandalkan untuk menjadi penyelamat timnya. Menghentikan tembakan lawan merupakan aspek terpenting bagi semua kiper karena itulah tugas utamanya. Lalu, siapakah kiper terbaik dan terburuk di aspek ini selama gelaran musim 2021/22? Mari kita bahas.

Sebelumnya, bagaimana kita akan mengukur kemampuan shot-stopping seorang kiper? Mungkin ada yang berpikir dengan persentase penyelamatannya atau save rate. Persentase penyelamatan dapat diukur dengan menghitung jumlah penyelamatan lalu dibagi dengan shot on target yang dihadapinya, tetapi jika kita mengukur dengan cara ini, kita bisa melihat kekurangannya, yaitu metrik save rate tidak memperhitungkan kualitas tembakan yang dilesatkan oleh lawan. Sebagai contohnya, mari kita lihat dua save berbeda dari Kepa Arrizabalaga saat melawan Man City.

Yang pertama: 

Dan yang kedua:

Kepa berhasil menyelamatkan kesempatan emas Jack Grealish.

Apa perbedaannya? Di klip pertama, John Stones melesatkan sebuah sundulan dari situasi set-piece yang hanya dapat diarahkan tepat di tengah gawang, membuat Kepa Arrizabalaga dengan mudahnya bisa menangkap bola tsb (0.05 xG). Lalu, di klip kedua, Jack Grealish mendapatkan kesempatan emas, 1v1 dengan Kepa yang akhirnya bisa diselamatkan oleh kiper asal Spanyol tsb dengan teknik penjagaan gawangnya (0.36 xG). Kedua peluang tersebut pastinya berbeda secara kualitas. Namun, jika hanya dilihat dari save percentage, keduanya bisa disamakan yaitu Kepa sama-sama menyelamatkan satu tembakan. Itulah salah satu kekurangan dari menggunakan save percentage sebagai tolak ukur kemampuan seorang kiper dalam penyelamatan tembakan.

Kalau begitu, bagaimanakah cara mengukur hebat tidaknya seorang kiper dalam shot-stopping? Hal tersebut bisa diukur dengan metrik Post-Shot Expected Goal (PSxG). Berbeda dengan metrik Expected Goal (xG), metrik ini mengukur probabilitas bola dapat masuk ke gawang lawan setelah tembakan dilepaskan. Sedangkan, xG mengukur probabilitas bola menjadi gol sebelum pemain menendang bola. Bagaimana maksudnya? Mari kita lihat contoh lainnya, yaitu gol Daniel Sturridge vs Chelsea di musim 18/19:

Gol Sturridge vs Chelsea di musim 18/19. xG rendah, PSxG tinggi.

Jika diukur secara xG, tendangan dari Sturridge akan memiliki nilai yang rendah karena jaraknya yang jauh dari gawang (semakin sulit kesempatan tersebut akan menjadi gol). Namun, jika dilihat dari PSxG, kesempatan ini memiliki nilai yang tinggi. Mengapa begitu? Karena tembakan bola tersebut berakhir di pojok atas gawang, area yang sulit untuk dijaga oleh kiper. Intinya, semakin sulit tembakan tersebut untuk diselamatkan oleh kiper, maka PSxG-nya akan lebih besar. Selain itu, PSxG juga tidak menghitung gol bunuh diri dalam metriknya.

Dari metrik tersebut, berarti kita bisa mengidentifikasi siapa sajakah kiper yang terbaik dalam hal penyelamatan tembakan lawan, secara kuantitas ataupun kualitas. Caranya adalah dengan menjumlahkan total PSxG yang dihadapi lalu dikurangi oleh jumlah kebobolan gol. Dari kalkulasi itu, kita coba plot untuk kedua hal tersebut dengan data dari Statsbomb via fbref.com melalui scatter diagram:

Muncul beberapa nama yang menarik, seperti David de Gea, Jose Sa, Yann Sommer, bahkan mantan pemain Manchester United, Sergio Romero, yang sekarang bermain bersama Venezia di Serie A sebagai kiper-kiper yang sangat baik dalam hal penyelamatan kesempatan. Namun, di sisi lain, ada Benoit Costil, Emiliano Martinez, Marc-Andre ter Stegen dan yang paling mengejutkan, Jan Oblak yang bisa digolongkan sebagai pemain-pemain dengan performa penyelamatan yang buruk musim ini. 

Jika dilihat dari 4 performa terbaik secara PSxG (+/-), maka kita akan mendapatkan nama-nama tsb:

Mungkin pemain-pemain seperti David de Gea ataupun Jose Sa dari Wolves sudah tidak asing lagi, tetapi muncul juga pemain yang tidak begitu dikenal seperti Manuel Riemann dari VfL Bochum, tim promosi Bundesliga yang sekarang menduduki posisi ke-11 ataupun Stole Dimitrievski, kiper asal Makedonia Utara dari Rayo Vallecano yang dirumorkan akan pindah ke Qatar.

Kalau begitu, siapakah yang terburuk dalam hal penyelamatan kesempatan? Inilah hasilnya dari performa PSxG (+/-)

Semua kiper kecuali satu ini memiliki sebuah kesamaan: timnya sedang terancam degradasi. Maka dari itu, sangat mengejutkan muncul nama Jan Oblak yang dari tahun ke tahun selalu konsisten dalam performa penyelamatan kesempatan (+11.5 di 17-18, +11.1 di 18-19, +1.2 di 19-20 dan +9.8 di 20-21) mengalami penurunan secara drastis. Hal yang menarik lainnya adalah Arthur Desmas yang mencatat performa PSxG (+/-) per 90 terburuk di top 5 liga Eropa, yaitu -0.53. Alhasil, ia kehilangan tempatnya di starting XI Clermont Foot pada Matchweek ke-13 Ligue 1.

Dari metrik tersebut, kita juga bisa mendapatkan liga manakah yang memiliki kiper terbaik dalam hal penyelamatan. Dari fbref.com, rata-rata PSxG (+/-) terbaik dimiliki oleh para kiper yang bermain di Bundesliga, diikuti oleh La Liga dan Premier League. Dua posisi terbawah ditempati oleh Ligue 1 dan Serie A, yang hanya bisa menunjukkan nilai -0.11 pada metrik PSxG (+/-).

Dari tulisan ini, adakah nama-nama yang membuat kalian terkesan atau terkejut dengan performa penyelamatannya? Siapakah pemain tersebut? 

Leave a Reply

Your email address will not be published.